BAGIBERITA, Sumenep – Langkah strategis diambil Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep dalam membentengi moral generasi muda sekaligus memperkuat sektor wisata berbasis religi. Sebuah tradisi turun-temurun yang telah hidup di tengah masyarakat sejak tahun 1940 atau era kolonial, yakni Pawai Muharram, kini resmi dipatenkan oleh Bupati Achmad Fauzi Wongsojudo sebagai agenda rutin tahunan kalender pariwisata daerah.
Penegasan komitmen kebudayaan ini disampaikan langsung oleh Bupati Fauzi saat melepas rombongan besar peserta Pawai Muharram menyambut Tahun Baru Islam 1448 Hijriah di depan situs bersejarah Labang Mesem, Keraton Sumenep, pada Senin (29/06/2026).
Berbeda dari sekadar perayaan seremonial biasa, Pemkab Sumenep memandang Pawai Muharram sebagai instrumen social engineering yang taktis untuk membentengi karakter pelajar Madura dari dampak negatif digitalisasi global. Alih-alih larut dalam euforia modernisasi yang hampa nilai lokal, ratusan pelajar justru diajak turun ke jalan sebagai aktor utama syiar budaya.
“Pawai Muharram ini punya akar sejarah yang sangat panjang di Sumenep, hampir satu abad bertahan sejak kisaran tahun 1940. Ini bukan sekadar jalan-jalan sore memakai atribut Islami, melainkan cara kita mentransfer nilai-nilai akhlakul karimah kepada generasi penerus estafet kepemimpinan bangsa agar tidak lupa pada akarnya,” tegas Bupati Achmad Fauzi.
Politisi berambut putih ini memastikan, selama masa kepemimpinannya, ruang-ruang ekspresi kebudayaan santri seperti ini akan mendapatkan jaminan panggung utama setiap tahunnya.
Sementara itu, Kepala Bagian Kesejahteraan Masyarakat (Kabag Kesra) Setda Sumenep, Kamiluddin, mengungkapkan bahwa gelaran ini digerakkan secara masif oleh 750 siswa yang mengonsolidasikan 30 lembaga pendidikan lintas jenjang dari tingkat SD/MI hingga SMA. Atribut-atribut Islami yang disajikan para peserta berhasil mentransformasi jalanan protokol pusat kota menjadi panggung syiar yang megah dan estetik.
Sebagai bagian dari manajemen penataan spiritual kota, sebelum ratusan siswa memadati rute sejarah dari Labang Mesem hingga kawasan Taman Adipura, Pemkab Sumenep telah lebih dulu mengonsolidasikan poros ulama, ormas Islam, dan pimpinan OPD melalui ritual doa lintas tahun di Pendopo Agung Keraton Sumenep. Langkah integratif ini menegaskan tekad kolektif Sumenep untuk menjadikan spirit hijrah sebagai mesin penggerak perubahan sosial ke arah yang lebih inklusif.
